Get paid to share your links!

Sunday, January 1, 2017

Menulis cita-cita.

Tekan link bawah ini http://tenteaea.com/2191

Menulis adalah menyenangkan...........
 oke langsung saja, saya akan memberikan contoh latihan menulis sebuah cita-cita. Kenapa cita cita harus di tulis? karena jika kita menulis cita-cita kita mampu memotivasi kita agar kita selalu teringat dan kita akan selalu semangat. oke saya akan mempublikasikan perjalanan saya mencari cita-cita. Perjalanan saya mencari cita-cita sangat panjang sekali. Ma'lum saya anu orangya plin-plan hehe
selamat membaca....... 








CITA-CITA KU


Cita-cita adalah dua kata yang terlihatanya sepele. Kebanyakan orang  menganggap cita-cita adalah sebuah angan-angan atau imajinasi yang tidak penting dan hanya sebagai visi dan misi hidup belaka. Karena kebanyakan orang merasa minder dan intropeksi diri untuk mempunyai aspirasi dapat mencapai cita-citanya. Kenapa demikian? Jawabanya ya karena cita-cita yang telah di formulasikan tidak berlandaskan spiritualitas. Mayoritas orang mempunyai cita-cita lebih cenderung bersifat sekuleritas semata. Sehingga semata-mata hanya berorientasi terhadap materialistik. Itulah salah satu fenomena yang membuat Agama menjadi sebuah anak tiri dan menjadi terpinggirkan.
Masalah cita-cita adalah sesuatu yang sangat urgen dan vital untuk kita kaji. Terkadang terjadi konflik batin di dalam intuisi kita, seakan-akan terkadang timbul sikap skeptis dan kurang percaya diri dalam memformulasikan sebuah cita-cita. Bagaimana sih agar cita-cita kita tercapai? Apakah mungkin sih cita-cita kita tercapai? Itulah suara hati kita. Dari situlah kita harus melakukan observasi dalam diri kita sendiri. Tanpa kita sadari, terkadang kita sendiri saja tidak yakin dengan cita-cita kita, dimana Alloh mau mengabulkan cita-cita kita. Karena sebuah tercapainya cita-cita sangatlah membutuhkan usaha yang memang benar-benar intensif. Usaha tanpa berdoa pun tidak akan pernah cukup. Karena tercapainya aspirasi kita itu tergantung intensitas dan keyakinan kita.
Untuk mencapai cita-cita, usaha dan doa juga terasa masih kurang. Apa sih yang kurang? Yang kurang adalah sebuah tujuan. Tujuan adalah sebuah penyemangat yang sangat urgen untuk mendorong diri kita, yaitu mendorong kita agar selalu semangat dan tidak pernah putus asa. Maka sebelum mempunyai cita-cita kita harus mencari sebuah motif. Mencari motif atau tujuan mengapa kita menginginkan cita-cita tersebut adalah hal yang sangat penting untuk kita ekplorasi. Bahwa kita jangan sampai mempunyai cita-cita tanpa sebab. Karena menurut saya sebuah cita-cita adalah hal yang sangat integral dalam hidup kita.


Setelah membahas sedikit tentang cita-cita, saya akan mempublikasikan cita-cita saya sendiri melalui artikel ini. Saya adalah Ibnu Rosid seorang laki-laki yang dilahirkan di Desa Tresnorejo, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Saya sebenarnya dari kecil sudah mempunyai cita-cita.  Cita-cita yang saya inginkan adalah menjadi seorang Guru. Pada waktu itu, sebuah cita-cita itu masih saya anggap remeh dan itu juga sebuah cita-cita ikut-ikutan, bahasa kerenya (pelon batir). Namanya juga anak kecil hehe. Dari SD sampai Mts cita-cita saya masihlah fluktuasi dan ga jelas. Terkadang saya menganggap itu cita-cita saya dan terkadang pula saya tidak menganggapnya.
Mulai menjelang kelas tiga Mts timbulah sifat kritis di benak dan fikiran saya. Kenapa saya mempunyai cita-cita sebagai seorang guru. Apa sih enaknya guru? Besarkah bayaran guru? Dan Benarkah cita-cita saya menjadi guru?. Mulai saat itulah saya kebingungan dan selalu timbul pertanyaan di hati saya. Sampai saya menjelang kelas dua SMK saya pun belum mendapatkan sebuah  jawaban mengenai cita-cita saya. Sampai-sampai saya benar-benar bingung dengan cita-cita saya, karena yang melatar belakangi timbulnya cita-cita saya adalah teman-teman saya pas waktu SD dan saya hanya ikut-ikutan. Itulah yang membuat saya bingung untuk menganalisanya.
Setelah saya lulus SMK, yaitu SMK Bina Karya 2 Karanganyar. Waktu itu juga saya belum selesai memformulasi dan mengekplorasikan cita-cita saya. Dengan seperti itu, dengan terpaksa saya mengambil keputusan untuk netral tidak mempunyai cita-cita dan lebih mengfokuskan ke orang tua. Setelah saya lulus SMK, dengan kehendak Alloh saya di terima kerja di pt ACI. PT ACI adalah sebuah PT yang memproduksi pelek yaitu pelek mobil dan motor. PT tersebut tepatnya berada di Karawang jawa barat yaitu di kawasan industri mitra karawang.




Setelah saya  di trima kerja, saya mengfokuskan ke dunia kerja/industri. Yang dimana pemikiranya hanya uang-uang dan uang. Jadi bisa dikatakan saya pernah terjebak sekulerisasi dan virus hedonisme. Karena yang saya pikirkan hanyalah uang. Karena yang ada di benak saya bagaimana saya bisa mengumpulkan uang yang banyak dan bagaimana saya bisa mengirimkan uang kepada orang tua dirumah.
Itulah dunia industri yang saya tau. Hanya uang dan uang yang selalu di pikirkan tidak mempunyai motif hidup. Setelah satu tahun saya kerja di karawang, pada waktu itu saya merasa gelisah seolah-olah terjadi konflik batin di dalam diri saya. Sehingga membuat saya merasa hidup saya ada yang kurang dan terasa belum sempurna. Setiap pulang kerja saya selalu merenung dan batin saya seolah-olah selalu menghantui saya. Pada saat itu juga saya mencari dan mengekplorasi makna hidup.
Setelah itu saya berfikir dua rius, dan mengintesfigasinya. Pertama-tama timbul pertanyaan pada benak saya. Apakah saya selamanya akan hidup di dunia industri dan menjadi kuli? Dari situlah munculnya dinamika pola pikir saya. Dan pada waktu itu juga saya menentukan cita-cita saya. Setelah saya pulang kerja saya melihat orang-orang yang sukses dan mempunyai usaha. Dari situlah saya terobsesi ingin menjadi seorang pengusaha. Dan cita-cita saya di perkuat setelah saya mengetahui sebuah hadis. Rosululloh pernah bersabda Bahwa sembilan dari sepuluh rizki di dapatkan dari perdagangan. Dari situlah timbulnya cita-cita saya yang pertama.
Setelah saya mendapatkan cita-cita saya yang pertama. Saat itu saya sadar. Bahwa menjadi seorang pengusaha bukanlah hal yang mudah dan sangat membutuhkan kecerdasan, pengalaman dan keahlian. Setelah itu pas kerja saya genap satu tahun dan saya memutuskan untuk mudik pulang kampung. Meskipun pada waktu itu saya akan di angkat menjadi karyawan tetap. Dengan yakin dan berkeputusan bulat saya memutuskan untuk mudik pulang kampung dengan niatan ingin sekolah lagi dan kuliah. Karena menjadi seorang pengusaha sangat membutuhkan ilmu dan pengalaman. Maka dari itu, dengan rasa yakin mudiklah saya.
Pagi yang cerah, dengan pancaran matahari yang begitu indah dan kehijauan tanaman padi di pinggir jalan yang menyambut kedatangan saya di kota tercinta yaitu “KEBUMEN BERIMAN” itulah semboyan kotaku tercinta. Pada pagi itu sampailah saya  di kota kebumen. Pada waktu itu saya turun dari Murni Jaya. Murni jaya adalah sebuah nama bus yang saya tumpangi. Setelah saya turun dari bus, dengan antusiasnya saya pulang dengan naik ojeg. Entah kenapa perasaan saya begitu benar-benar bahagia. Mungkin karena saking kangenya dengan rumah dan keluarga.
Dua hari sudah saya dirumah, Setelah itu saya tekadkan mendaftar kuliah di STAINU Kebumen, STAINU adalah nama kampus dimana saya mendaftar. Pada waktu saya mendaftar masihlah STAINU yang sekarang diganti menjadi IAINU. Saya berkeputusan mendaftar kuliah di IAINU karena mendapat informasi dari radio yang sangat menjanjikan. Namanya juga iklan ya menjanjikan hehe. Yang lebih menarik lagi kuliahnya murah kata tetangga saya juga. Maklum saya adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga yang hanya pas-pasan. Maka dari itu saya mengambil keputusan untuk kuliah di IAINU.
Setelah saya mendaftar di IAINU dan melaksanakan ospek. Dari situlah munculnya cita-cita saya yang kedua yaitu menjadi seorang dosen. Saya mempunyai cita-cita sebagai seorang dosen karena terobsesi dari sambutan-sambutan Bapak dosen yang pada waktu itu mengisi acara pada waktu ospek. Entah siapa namanya saya lupa. Intinya saya benar-benar terobsesi. Dan cita-cita saya juga di perkuat oleh ajaran Agama Islam. Yaitu bahwa amal yang tidak pernah putus adalah Anak soleh dan Ilmu yang bermanfaat. Dualisme inilah yang menyentuh di hati saya. Sehingga munculah sebuah motif bahwa saya harus bisa menjadi anak soleh dambaan orang tua dan harus bisa menjadi dosen. Sebenernya bukan dosen sih, karena kalo desen sifatnya partikular. Subtansinya guru. Guru apa saja yang penting bermanfaat dan sifatnya positif dan baik. Entah guru ngaji, Guru Sd, SMP, SMA, Dosen dll. Yang penting GURU.


Setelah itu saya terus antusias menjalani kuliah sehari-hari untuk mencapai cita-cita saya, Sampe semester tiga. Saya selalu berusaha membaca buku setiap hari walaupun satu lembar. Itu adalah bentuk manifestasi usaha saya untuk mencapai cita-cita saya. Walaupun terkadang muncul sifat malas, betmud, tidak semangat, tetapi bagi saya apapun keadaanya membaca buku bagi saya adalah fardu ‘ain. Karena membaca buku adalah jendela kehidupan dan sangat bermanfaat untuk menambah wawasan dan memperluas khasanah keilmuan. Oleh karena itu saya terus riyadloh untuk intensif dan kontinyu (Istikomah) dalam membaca buku. Awal mulanya membaca buku adalah sesuatu yang membosankan. Tetapi jika kita sadari dan sudah terbiasa semuanya akan terasa menyenangkan, nyaman dan rasanya ada yang kurang jika kita belum membaca buku. Karena pepatah mengatakan “bisa karena terbiasa” oleh karena itu saya yakin jika saya membiasakan membaca buku istikomah setiap hari maka saya akan terbiasa.





 Pada waktu semester tiga munculah cita-cita saya yang ketiga yaitu menjadi seorang penulis. Munculnya cita-cita saya menjadi seorang penulis juga bukan seperti angin yang datang begitu saja. Saya mempunyai cita-cita menjadi seorang penulis karena saya juga terobsesi dari seseorang. Walaupun saya hanya membaca karyanya di dalam buku. Setelah saya membaca buku itu sampai selesai. Dengan tidak sengaja saya membaca sebuah kalimat yang benar-benar sangat menggetarkan hati saya. Kalimatnya seperti ini “Menulislah maka kau akan dikenang oleh jaman tanpa batas ruang dan waktu” Tulisan ini lah yang mendominasi saya ingin menjadi seorang penulis.
Usaha yang sudah saya lakukan untuk mencapai cita-cita saya menjadi seorang penulis yaitu selain saya berlatih terbiasa membaca, saya juga mengiringinya dengan menulis setiap malam. Entah itu menulis apa tidak pernah saya permasalahkan. Karena bagi saya yang penting menulis. Saya biasanya menulis tentang kebebasan hidup, kebahagiaan hidup, cinta yang hakiki, dan menghadapi permasalahan dengan tersenyum. Itu adalah beberapa judul atau tema artikel yang saya tulis.
Menulis bagi saya adalah menyenangkan. Terkadang saya pernah berfikir bahwa kertas putih adalah teman saya yang paling setia. Kapanpun saya ingin bercerita tentang keluh kesah saya. Maka kertas putihlah yang selalu bisa menemani saya. Bermula dari situlah saya terbiasa menulis. Menulis adalah hal yang menyenangkan,  Menulis mampu membawa kita ke alam imajinasi laksana terbang mengelilingi dunia. Kemanapun kita akan pergi maka tidak ada yang bisa menghalanginya. Entah itu anginpun mampu terhipnotis oleh kita. Dengan menulis kita juga mampu mengembangkan intelegensi kita agar tidak terkena virus kevakuman. 
Selain itu, dengan menulis kita juga mengamalkan ilmu yang kita punya dan menceritakan pengalaman kita kepada orang banyak. Dengan kita menulis, apa yang kita tulis akan di baca oleh orang. Dengan seperti itu kita dapat menuliskan dan memberikan khasanah keilmuan. Dengan tidak kita sadari jika kita menulis tentang pendidikan dengan mengaitkannya dengan tauhid. Dan jika yang membaca tulisan kita yang dulunya tidak baik menjadi baik, yang amoral menjadi sholeh, itu adalah sebuah emas untuk kita. Apalagi jika yang membaca tulisan kita dari segi kuantitasnya banyak. Maka otomatis bisa dikatakan kita telah membuat orang menjadi lebih baik dan menyadarkanya. Itu adalah sebuah aset amal kebaikan untuk bekal kita di akherat. Maka janganlah malas menulis.
Menulis adalah sebuah pekerjaan yang menyenangkan. Janganlah berfikir menulis itu sulit sebelum mencoba. Inilah perjalanan kehidupan saya dalam mencari sebuah cita-cita. Dan cita-cita saya yang terakhir adalah menjadi anak kebanggan orang tua, membahagiakan kedua orang tua, dan memberangkatkan orang tua ke Baitulloh. Amin....Amin ya Alloh.
Semoga Alloh meridoinya.............Aminnnn

Sunday, November 13, 2016

MAKALAH FUNGSI DAN MANFAAT MICRO TEACHING




MAKALAH   FUNGSI
DAN MANFAAT MICRO TEACHING
 




BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Guru atau pendidik yang baik adalah, mereka yang berhasil membawa peserta didik mencapai tujuan dan hasil yang baik sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam suatu pendidikan. Untuk mencapai efektifitas suatu pembelajaran, tentunya dibutuhkan seorang guru profesional yang betul-betul memahami tentang bagaimana melaksanakan suatu pembelajaran dengan baik, serta memiliki ketrampilan (skill) dasar mengajar yang baik sebelum melaksankan tugas sebagai seorang pendidik atau guru.
Keprofesionalisme seorang pendidik dapat diperoleh dari pelatihan serta pengalaman belajar. Pelatihan dan pengalaman itu sendiri dapat diperoleh antara lain dengan mengikuti pembelajaran micro (micro teaching). Pembelajaran micro yaitu untuk membekali para calon pendidik (guru) agar memiliki beberapa keterampilan dasar dalam mengajar, serta dapat mendalami makna dan strategi yang akan digunakan pada suatu proses pembelajaran. Tenaga pendidik (guru) tentunya harus terus berlatih keterampilan tersebut satu demi satu.
Oleh karena itu, pembelajaran mikro sangat dibutuhkan oleh seorang calon tenaga pendidik (guru) dalam  bentuk peer teaching dengan harapan agar para calon pendidik sekaligus dapat menjadi pengamat bagi teman sesama calon pendidik, untuk saling memberikan koreksi dan masukan mengenai penguasaan keterampilan dasar mengajar yang dimilikinya. Dengan seperti itu Manfaat dan fungsi micro teaching sangatlah komperhensif. Oleh karena itu penulis tertarik ingin membahas dan mengkaji tentang manfaat dan fungsi micro teaching.


B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas dan agar pembahasan lebih terarah serta mendalam supaya sesuai dengan tujuanya, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1.     Bagaimana fungsi microteaching ?
2.    Bagaimana manfaat microteaching ?

C.  Tujuan Penulisan Makalah
Agar suatu penulisan makalah terarah dan mengenai sasaran, maka harus mempunyai tujuan. Adapaun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.    Mengetahui fungsi microteaching.
2.    Mengetahui  manfaat microteaching.

















BAB II
PEMBAHASAN


A.    Fungsi Microteaching
1.    Fungsi Microteaching bagi calon guru
Microteaching bagi calon guru Berfungsi yaitu memberikan pengalaman baru dalam belajar mengajar. Dwight Allen dalam asril (2011:46) mengemukakan bahwa microteaching bagi calon guru :
a.       memberi pengalaman mengajar yang nyata dan latihan sejumlah keterampilan dasar mengajar;
b.      calon guru dapat mengembangkan keterampilan mengajarnya sebelum mereka terjun kelapangan;
c.       memberikan kemungkinan bagi calon guru untuk mendapatkan bermacam-macam keterampilan dasar mengajar.
Fungsi pembelajaran micro adalah  selain sebagai  sarana latihan dalam mempraktikan keterampilan mengajar, dan juga salah satu syaarat bagi mahasiswa yang akan mengikuti praktek mengajar di lapangan. (PPL II).[1] Selain itu, microteaching berfungsi memberikan kesempatan kepada mahasiswa calon guru untuk menemukan dirinya sebagai calon guru ( Surwana et al., 2006: 4).
 Kegiatan mengajar merupakan kegiatan utama seorang guru. Melalui kegiatan tersebut, guru harus berhadapan dengan banyak siswa menjadi sosok manusia yang berwibawa dan disegani siswa. Pada saat itu, calon guru harus menunjukkan performa terbaiknya, meminimalkan segala kekurangan dan memanfaatkan segala kelebihannya untuk mendewasakan siswa. Kegiatan mengajar akan membentuk pribadi atau jati diri seorang guru yang sesungguhnya.

2.    Fungsi Microteaching Bagi Profesi Guru,
Bagi guru microteaching berfungsi memberikan penyegaran keterampilan dan sebagai sarana umpan balik atas kinerja mengajarnya. Dwilight Allen dalam asril (2011: 46) menyatakan bahwa microteaching memberikan penyegaran dalam program pendidikan dan mendapatkan pengalaman mengajar yang bersifat individual untuk mengembangkan profesi dan mengembangkan sikap terbuka bagi guru terhadap pembaruan. Guru yang sudah lupa dengan teori-teori mengajar dan teknik-teknik mengajar (karena jarang digunakan) kembali dapat diingatkan melalui program microteaching.
Surwa et al, (2006: 4) mengatakan bahwa microteaching berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh umpan balik atas kinerja mengajar seseorang. Memulai microteaching, baik calon guru maupun guru dapat memperoleh informasi tentang kekurangan dan kelebihanya dalam mengajar. Apa saja kelebihan yang perlu dipertahankan dan apa saja kekurangan yang perlu diperbaiki. Selain itu, melalui microteaching guru dapat mencoba metode atau model pembelajaran baru sebelum digunakan pada kelas yang sebenarnya. [2]

B.     Manfaat Microteaching
Microteaching memiliki banyak sekali manfaat. Hal ini dirasakan melalui dari program pelatihan guru, manfaat untuk pihak-pihak yang terlibat, dan proses menemukan cara mengajar yang lebih efektif. Microteaching sangat bermanfaat dalam menyukseskan program pelatihan mengajar bagi guru. Menurut Kpanja, microteaching sudah dipandang sebagai metode yang sukses dalam pendidikan calon guru dan sekarang telah digunakan di beberapa tempat untuk pengembangan profesi guru (kilic, 2010: 83).
Dengan membekali mahasiswa melalui pengajaran mikro, ada beberapa manfaat yang diperoleh, yakni :
a.       Menimbulkan, mengembangkan, membina keterampilan-keterampilan tertentu calon guru atau guru dalam mengajar.
b.      Keterampilan mengajar yang esensial secara tertentu dapat dilantihkan didik.
c.       Balikkan (Feed-back) yang cepat dan tepat dapat segera diperoleh.
d.      Latihan memungkinkan penguasaaan komponen keterampilan mengajar secara lebih baik.
e.       Dalam situasi latihan, calon guru atau guru dapat memusatkan perhatian secara khusus kepada komponen keterampilan yang objektif.
f.       Menuntut dikembangkannya pola observasi yang sistematis dan objektif .
g.      Mempertinggi efisiensi dan efektifitas penggunaan sekolah praktek dalam waktu praktek mengajar yang relatif singkat[3]
Menurut Nurlaila kelebihan microteaching dan manfaat-manfaatnya dalam program pengajaran ialah sebagai berikut.
1.      Menyelesaikan masalah yang dihadapi pelaksanaan program persiapan guru, seperti banyaknya guru yang akan berlatih atau kurangnya pembimbing atau tidak tersedianya kelas yang sebenarnya atu sulitnya menyepakati antara waktu belajar dan waktu latihan atau luputnya materi yang harus dilatihkan dari program pengajaran.
2.      Menghemat waktu dan tenaga. Dalam pengajaran mikro memungkinkan melatih guru untuk beberapa keterampilan yang penting dalam waktu singkat, tanpa menyianyiakan waktu dan tenaga untuk meltih keterampilan yag telah dikuasai guru sebelumnya, sebagaimana juga pengajaran mikro meminimalkan kebutuhan untuk melatih setiap guru yang berlatih terhadap semua keterampilan karena melihat dan berdiskusi akan memberikan manfaat bagi yang melihat sebagaimana manfaat bagi yang berlatih.
3.      Melatih guru dengan sejumlah keterampilan mengajar yang penting, seperti kecermatan dalam menyajikan dan mengajarkan, mengatur waktu dan manfaatnya, mengikuti langkah-langkah yang tekah dituliskan dalam RPP, dan memanfaatkan teknologi pengajaran dengan cara terstruktur dan teratur selain menggunakan gerakan tubuh dalam mengajar.
4.      Melatih guru mepersiapkan dan menyusun materi pelajaran karena biasanya untuk microteaching materi yang disajikan ialah materi baru yang dipersiapkan oleh guru yang berlatih itu sendiri atau menyimpang dari materi yang ada untuk menyesuaikan antara ketrampilan dan waktu yang tersedia.
5.      Diskusi guru yang berlatih langsung setelah selesai microteaching dan memungkinkan dosen pembimbing masuk ditengah-tengah pengajaran dan mengulang pengajaran, khususnya ketika mengajar teman-teman guru tersebut sebagai siswanya. Inilah masalah yang sulit menerapkannya dalam pengajaran yang kompleks, khususnya dalam kelas sebenarnya.
6.      Pengajaran mikro yang mendasarkan pada pemecahan ketrampilan-keterampilan menjadi beberapa bagian ketrampilan, merupakan hal yang membantu untuk menjaga perbedaan kepribadian atara guru-guru, melalui melatih mereka dengan sejumlah keterampilan yang dilalaikan oleh program latihan pengajaran secara kompleks.
7.      Menyediakan waktu bagi guru yang berlatih untuk mengetahui kekurangan dan kelebihannya dari aspek keilmuan, amaliah, dan seni melalui apa yang disampaikan berupa feedback dan penguatan dari dosen pembimbing dan teman-teman dalam bentuk kritikan, yang mana memberikan waktu baginya untuk memperbaiki perilakunya dan perkembangannya sebelum masuk lapangan pengajaran yang tidak ada lagi kritikan, feedback, dan penguatan, yang hal itu membantunya untuk mengevaluasi diri melalui melihat sendiri dikaset video.
8.      Memberikan kesempatan bagi guru untuk bertukar peran antara mereka dan mengidentifikasi masalah-masalah pengajaran dari jarak dekat, yaitu masalah guru dan siswa dan itu melalui duduk di bangku belajar dan berperan dengan karakter siswa yang sedang belajar dan mendengarkan guru, berinteraksi dengannya, kemudian memainkan peran guru dan seterusnya (situasi ini khusus bagi pengajaran sesama teman).
9.      Mengorelasikan antara teori dan aplikasi, yang memungkinkan menerapkan teori atau aliran atau metode mana pun secara aplikatif praktis dalam ruang belajar, ketika sedang menjelaskan atau setelahnya, apabila perlu.[4]
Brown dan Ametrong (Setyawan, 2010: 13-14), mencatat hasil riset tentang manfaat microteaching, sebagai berikut :
1.      Korelasi antara microteaching dan praktek keguruan sangat tinggi. Artinya, seseorang yang berpenampilan baik dalam microteaching akan baik pula dalam praktek mengajar di kelas.
2.      Praktikan yang lebih dahulu menempuh program microteaching ternyata lebih baik / lebih terampil dari pada praktikkan yang tidak mengikuti pengajaran microteaching.
3.      Praktikkan yang menempuh microteaching menunjukkan prestasi mengajar yang lebih tinggi.
4.      Bagi praktikkan yang telah memiliki kemampuan tinggi dalam pengajaran, microteaching kurang bermanfaat.
5.      Setelah mengikuti microteaching, praktikkan dapat menciptakan interaksi dengan siswa secara lebih baik.
6.      Penyajian model rekaman mengajar lebih baik dari pada model lisan sehingga lebih signifikan dengan keterampilan mengajar.[5]
Manfaat microteaching juga dapat dilihat dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Baik itu mahasiswa calon guru, guru, maupun supervisor, semuanya memperoleh manfaat yang tidak sedikit dari kegiatan microteaching. Sukirman (2012: 37-38) mengemukakan beberapa manfaat microteaching bagi ketiga pihak tersebut, yaitu sebagai berikut.
1.      Manfaat bagi mahasiswa calon guru ( pendidikan pre-service) :
a.         setiap mahasiswa calon guru dapat melatih bagian demi bagian dari setiap keterampilan mengajar yang harus dikuasainya secara lebih terkendali dan terkontrol;
b.         setiap mahasiswa calon guru dapat mengetahui tingkat kelebihan maupun kekurangannya dari setiap jenis keterampilan mengajar yang harus dikuasainya; 
c.         setiap mahasiswa calon guru dapat menerima informasi yang lengkap, objektif, dan akurat dari proses latihan yang telah dilakukannya melewati pihak observer;
d.        setiap mahasiswa calon guru dapat melakukan proses latihan ulang untuk memperbaiki terhadap kekurangan maupun untuk lebih meningkatkan kemampuan yang telah dimilikinya.   

2.      Manfaat bagi supervisor :
a.         dapat memperoleh data yang objektif dan komprehensif tingkat kemampuan para calon guru maupun para guru dalam hal kemampuan mengajar yang harus dikuasai sesuai dengan tuntutan profesinya;
b.         dapat memberikan masukan, saran, maupun solusi yang akurat karena didasarkan pada data atau informasi yang lengkap sesuai hasil pengamatan dari pembinaan melalui pembelajaran mikro yang telah dilakukannya;
c.         sebagai bahan masukan untuk membuat kebijakan yang lebih tepat bagi pengembangan karier setiap mahasiswa maupun para guru yang menjadi binaannya;
d.         sebagai bahan masukan untuk membuat kebijakan dalam melakukan proses pembinaan terhadap upaya untuk meningkatkan kualitas penampilan guru.

3.      Manfaat bagi para guru (pendidikan in-service) :
a.       para guru baik secara mandiri maupun bersama-sama dapat berlatih untuk lebih meningkatkan kemampuan mengajar yang telah dimilikinya;
b.      mengetahui kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya terkait dengan keterampilan mengajar yang harus dikuasainya;
c.       dapat dijadikan sebagai proses uji coba terhadap hal-hal yang baru, seperti dalam penerapan metode, media, materi baru, atau jenis-jenis keterampilan mengajar lainnya sebelum diterapkan dalam proses pembelajaran yang sebenarnya.

Dalam microteching, calon guru memiliki kesempatan untuk meningkatkan perilaku efektif dalam lingkungan belajar. Dengan kata lain, adanya microteaching memberi peluang untuk penemuan metode-metode yang lebih efektif. Setelah mengajar, rekaman praktikkan dianalisis atau diteliti untuk mengetahui kekurangannya sehingga menginspirasi pengamat untuk memberikan masukan-masukan. Pemberian masukan sangat bermanfaat untuk perbaikan mengajar yang efektif.
Ide pertama timbul dalam bentuk demonstrasi pelajaran, dengan sekelomok siswa bermain peran, kemudian diadakan penelitian terhadap pengajaran mikro dalam situasi pembelajaran yang sebenarnya. Dalam rangka mengembangkan keterampilan mengajar, perbuatan mengajar yang kompleks itu dipecah-pecah menjadi sejumlah keterampilan agar mudah dipelajari. Selain itu, diteliti cara-cara menggunakan metode secara fleksibel dan efektif, yang disertai pertanyaan sebagai reinforsement.
Sebagai tambahan, Kwartolo (2005: 104) menjelaskan bahwa microteaching dapat dianfaatkan untuk mecari seorang guru menjadi model dalam mengajar. Guru yang dijadikan model harus sudah diakui kemahirannya dalam mengajar. Guru yang menjadi model tidak harus menguasai semua bidang studi. Dalam perkembangan ilmu yang begitu pesat sangat sulit menemukan yang mampu menguasai bidang studi. Hal yang terpenting ialah guru model harus benar-benr mahir dalam hal apa yang diperankan. Memanfaatkan guru model tidak harus menghadirkan guru model dihadapan para guru pembelajar. Penampilan guru model cukup direkan dan sebarluaskan serta ditonton oleh guru-guru yang lain.
Pendekatan guru model juga dapat manfaatkan untuk mengantisipasi guru tersebut berhalangan hadir dalam mengajar. Guru piket dapat memutar penampilan guru model untuk pokok bahasan tertentu dihadapan para siswanya. Dengan demikian, siswa akan melihat dan mendengarkan pelajaran yang seharusnya diajarkan pada hari itu sehingga mereka tidak ketinggalan pelajaran. Video guru model sangat bermanfaat untuk menyampaikan materi pelajaran dengan metode eksperimen, ceramah, dan demonstrasi. [6]









BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Microteaching bagi calon guru Berfunsi yaitu memberikan pengalaman baru dalam belajar mengajar. Dwight Allen dalam asril (2011:46) mengemukakan bahwa microteaching bagi calon guru : (1) memberi pengalaman mengajar yang nyata dan latihan sejumlah keterampilan dasar mengajar; (2) calon guru dapat mengembangkan keterampilan mengajarnya sebelum mereka terjun kelapangan; (3) memberikan kemungkinan bagi calon guru untuk mendapatkan bermacam-macam keterampilan dasar mengajar.
Surwa et al, (2006: 4) mengatakan bahwa microteaching berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh umpan balik atas kinerja mengajar seseorang. Memulai microteaching, baik calon guru maupun guru dapat memperoleh informasi tentang kekurangan dan kelebihanya dalam mengajar. Apa saja kelebihan yang perlu dipertahankan dan apa saja kekurangan yang perlu diperbaiki. Selain itu, melalui microteaching guru dapat mencoba metode atau model pembelajaran baru sebelum digunakan pada kelas yang sebenarnya.








DAFTAR PUSTAKA


Zainal Asril, 2015 Micro Teaching, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Barnawi dan M. Arifin, 2015, Microteaching (Teori dan Praktik Pengajaran yang Efektif dan Kreatif), Yogyakarta : Ar-Ruzz Media

Hassibuan, 1993, Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya




[1] Zainal Asril, Micro Teaching, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2015 Hlm.47

[2] Barnawi dan M. Arifin, Microteaching (Teori dan Praktik Pengajaran yang Efektif dan Kreatif), Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2015,  hal. 24-25
[3] Hassibuan, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1993). Hlm 51-52

[4]  Barnawi dan M. Arifin, Microteaching (Teori dan Praktik Pengajaran yang Efektif dan Kreatif), Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2015, hal. 28-30
[5] Ibid, Barnawi dan M. Arifin hal. 30
[6] Barnawi dan M. Arifin,..........................  hal. 30-33