Menulis adalah menyenangkan...........
oke langsung saja, saya akan memberikan contoh latihan menulis sebuah cita-cita. Kenapa cita cita harus di tulis? karena jika kita menulis cita-cita kita mampu memotivasi kita agar kita selalu teringat dan kita akan selalu semangat. oke saya akan mempublikasikan perjalanan saya mencari cita-cita. Perjalanan saya mencari cita-cita sangat panjang sekali. Ma'lum saya anu orangya plin-plan hehe
selamat membaca.......
CITA-CITA KU
Cita-cita adalah dua kata yang terlihatanya
sepele. Kebanyakan orang menganggap cita-cita
adalah sebuah angan-angan atau imajinasi yang tidak penting dan hanya sebagai
visi dan misi hidup belaka. Karena kebanyakan orang merasa minder dan
intropeksi diri untuk mempunyai aspirasi dapat mencapai cita-citanya. Kenapa
demikian? Jawabanya ya karena cita-cita yang telah di formulasikan tidak
berlandaskan spiritualitas. Mayoritas orang mempunyai cita-cita lebih cenderung
bersifat sekuleritas semata. Sehingga semata-mata hanya berorientasi terhadap
materialistik. Itulah salah satu fenomena yang membuat Agama menjadi sebuah
anak tiri dan menjadi terpinggirkan.
Masalah cita-cita adalah sesuatu yang sangat
urgen dan vital untuk kita kaji. Terkadang terjadi konflik batin di dalam
intuisi kita, seakan-akan terkadang timbul sikap skeptis dan kurang percaya
diri dalam memformulasikan sebuah cita-cita. Bagaimana sih agar cita-cita kita
tercapai? Apakah mungkin sih cita-cita kita tercapai? Itulah suara hati kita.
Dari situlah kita harus melakukan observasi dalam diri kita sendiri. Tanpa kita
sadari, terkadang kita sendiri saja tidak yakin dengan cita-cita kita, dimana
Alloh mau mengabulkan cita-cita kita. Karena sebuah tercapainya cita-cita
sangatlah membutuhkan usaha yang memang benar-benar intensif. Usaha tanpa
berdoa pun tidak akan pernah cukup. Karena tercapainya aspirasi kita itu
tergantung intensitas dan keyakinan kita.
Untuk mencapai cita-cita, usaha dan doa juga
terasa masih kurang. Apa sih yang kurang? Yang kurang adalah sebuah tujuan. Tujuan
adalah sebuah penyemangat yang sangat urgen untuk mendorong diri kita, yaitu
mendorong kita agar selalu semangat dan tidak pernah putus asa. Maka sebelum
mempunyai cita-cita kita harus mencari sebuah motif. Mencari motif atau tujuan
mengapa kita menginginkan cita-cita tersebut adalah hal yang sangat penting untuk
kita ekplorasi. Bahwa kita jangan sampai mempunyai cita-cita tanpa sebab.
Karena menurut saya sebuah cita-cita adalah hal yang sangat integral dalam
hidup kita.
Setelah membahas sedikit tentang cita-cita,
saya akan mempublikasikan cita-cita saya sendiri melalui artikel ini. Saya
adalah Ibnu Rosid seorang laki-laki yang dilahirkan di Desa Tresnorejo,
Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Saya sebenarnya dari kecil sudah
mempunyai cita-cita. Cita-cita yang saya
inginkan adalah menjadi seorang Guru. Pada waktu itu, sebuah cita-cita itu masih
saya anggap remeh dan itu juga sebuah cita-cita ikut-ikutan, bahasa kerenya
(pelon batir). Namanya juga anak kecil hehe. Dari SD sampai Mts cita-cita saya
masihlah fluktuasi dan ga jelas. Terkadang saya menganggap itu cita-cita saya
dan terkadang pula saya tidak menganggapnya.
Mulai menjelang kelas tiga Mts timbulah sifat
kritis di benak dan fikiran saya. Kenapa saya mempunyai cita-cita sebagai
seorang guru. Apa sih enaknya guru? Besarkah bayaran guru? Dan Benarkah cita-cita
saya menjadi guru?. Mulai saat itulah saya kebingungan dan selalu timbul
pertanyaan di hati saya. Sampai saya menjelang kelas dua SMK saya pun belum
mendapatkan sebuah jawaban mengenai
cita-cita saya. Sampai-sampai saya benar-benar bingung dengan cita-cita saya,
karena yang melatar belakangi timbulnya cita-cita saya adalah teman-teman saya
pas waktu SD dan saya hanya ikut-ikutan. Itulah yang membuat saya bingung untuk
menganalisanya.
Setelah saya lulus SMK, yaitu SMK Bina Karya 2
Karanganyar. Waktu itu juga saya belum selesai memformulasi dan mengekplorasikan
cita-cita saya. Dengan seperti itu, dengan terpaksa saya mengambil keputusan
untuk netral tidak mempunyai cita-cita dan lebih mengfokuskan ke orang tua.
Setelah saya lulus SMK, dengan kehendak Alloh saya di terima kerja di pt ACI.
PT ACI adalah sebuah PT yang memproduksi pelek yaitu pelek mobil dan motor. PT
tersebut tepatnya berada di Karawang jawa barat yaitu di kawasan industri mitra
karawang.
Setelah saya
di trima kerja, saya mengfokuskan ke dunia kerja/industri. Yang dimana
pemikiranya hanya uang-uang dan uang. Jadi bisa dikatakan saya pernah terjebak
sekulerisasi dan virus hedonisme. Karena yang saya pikirkan hanyalah uang.
Karena yang ada di benak saya bagaimana saya bisa mengumpulkan uang yang banyak
dan bagaimana saya bisa mengirimkan uang kepada orang tua dirumah.
Itulah dunia industri yang saya tau. Hanya
uang dan uang yang selalu di pikirkan tidak mempunyai motif hidup. Setelah satu
tahun saya kerja di karawang, pada waktu itu saya merasa gelisah seolah-olah
terjadi konflik batin di dalam diri saya. Sehingga membuat saya merasa hidup
saya ada yang kurang dan terasa belum sempurna. Setiap pulang kerja saya selalu
merenung dan batin saya seolah-olah selalu menghantui saya. Pada saat itu juga
saya mencari dan mengekplorasi makna hidup.
Setelah itu saya berfikir dua rius, dan
mengintesfigasinya. Pertama-tama timbul pertanyaan pada benak saya. Apakah saya
selamanya akan hidup di dunia industri dan menjadi kuli? Dari situlah munculnya
dinamika pola pikir saya. Dan pada waktu itu juga saya menentukan cita-cita
saya. Setelah saya pulang kerja saya melihat orang-orang yang sukses dan
mempunyai usaha. Dari situlah saya terobsesi ingin menjadi seorang pengusaha.
Dan cita-cita saya di perkuat setelah saya mengetahui sebuah hadis. Rosululloh
pernah bersabda Bahwa sembilan dari sepuluh rizki di dapatkan dari perdagangan.
Dari situlah timbulnya cita-cita saya yang pertama.
Setelah saya mendapatkan cita-cita saya yang
pertama. Saat itu saya sadar. Bahwa menjadi seorang pengusaha bukanlah hal yang
mudah dan sangat membutuhkan kecerdasan, pengalaman dan keahlian. Setelah itu
pas kerja saya genap satu tahun dan saya memutuskan untuk mudik pulang kampung.
Meskipun pada waktu itu saya akan di angkat menjadi karyawan tetap. Dengan
yakin dan berkeputusan bulat saya memutuskan untuk mudik pulang kampung dengan
niatan ingin sekolah lagi dan kuliah. Karena menjadi seorang pengusaha sangat
membutuhkan ilmu dan pengalaman. Maka dari itu, dengan rasa yakin mudiklah
saya.
Pagi yang cerah, dengan pancaran matahari yang
begitu indah dan kehijauan tanaman padi di pinggir jalan yang menyambut
kedatangan saya di kota tercinta yaitu “KEBUMEN BERIMAN” itulah semboyan kotaku
tercinta. Pada pagi itu sampailah saya
di kota kebumen. Pada waktu itu saya turun dari Murni Jaya. Murni jaya
adalah sebuah nama bus yang saya tumpangi. Setelah saya turun dari bus, dengan
antusiasnya saya pulang dengan naik ojeg. Entah kenapa perasaan saya begitu
benar-benar bahagia. Mungkin karena saking kangenya dengan rumah dan keluarga.
Dua hari sudah saya dirumah, Setelah itu saya
tekadkan mendaftar kuliah di STAINU Kebumen, STAINU adalah nama kampus dimana
saya mendaftar. Pada waktu saya mendaftar masihlah STAINU yang sekarang diganti
menjadi IAINU. Saya berkeputusan mendaftar kuliah di IAINU karena mendapat informasi
dari radio yang sangat menjanjikan. Namanya juga iklan ya menjanjikan hehe.
Yang lebih menarik lagi kuliahnya murah kata tetangga saya juga. Maklum saya
adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga yang hanya pas-pasan. Maka dari
itu saya mengambil keputusan untuk kuliah di IAINU.
Setelah saya mendaftar di IAINU dan
melaksanakan ospek. Dari situlah munculnya cita-cita saya yang kedua yaitu
menjadi seorang dosen. Saya mempunyai cita-cita sebagai seorang dosen karena
terobsesi dari sambutan-sambutan Bapak dosen yang pada waktu itu mengisi acara
pada waktu ospek. Entah siapa namanya saya lupa. Intinya saya benar-benar
terobsesi. Dan cita-cita saya juga di perkuat oleh ajaran Agama Islam. Yaitu
bahwa amal yang tidak pernah putus adalah Anak soleh dan Ilmu yang bermanfaat.
Dualisme inilah yang menyentuh di hati saya. Sehingga munculah sebuah motif
bahwa saya harus bisa menjadi anak soleh dambaan orang tua dan harus bisa
menjadi dosen. Sebenernya bukan dosen sih, karena kalo desen sifatnya
partikular. Subtansinya guru. Guru apa saja yang penting bermanfaat dan
sifatnya positif dan baik. Entah guru ngaji, Guru Sd, SMP, SMA, Dosen dll. Yang
penting GURU.
Setelah itu saya terus antusias menjalani
kuliah sehari-hari untuk mencapai cita-cita saya, Sampe semester tiga. Saya
selalu berusaha membaca buku setiap hari walaupun satu lembar. Itu adalah
bentuk manifestasi usaha saya untuk mencapai cita-cita saya. Walaupun terkadang
muncul sifat malas, betmud, tidak semangat, tetapi bagi saya apapun keadaanya
membaca buku bagi saya adalah fardu ‘ain. Karena membaca buku adalah jendela
kehidupan dan sangat bermanfaat untuk menambah wawasan dan memperluas khasanah
keilmuan. Oleh karena itu saya terus riyadloh untuk intensif dan kontinyu
(Istikomah) dalam membaca buku. Awal mulanya membaca buku adalah sesuatu yang
membosankan. Tetapi jika kita sadari dan sudah terbiasa semuanya akan terasa
menyenangkan, nyaman dan rasanya ada yang kurang jika kita belum membaca buku.
Karena pepatah mengatakan “bisa karena terbiasa” oleh karena itu saya yakin
jika saya membiasakan membaca buku istikomah setiap hari maka saya akan
terbiasa.
Pada
waktu semester tiga munculah cita-cita saya yang ketiga yaitu menjadi seorang
penulis. Munculnya cita-cita saya menjadi seorang penulis juga bukan seperti
angin yang datang begitu saja. Saya mempunyai cita-cita menjadi seorang penulis
karena saya juga terobsesi dari seseorang. Walaupun saya hanya membaca karyanya
di dalam buku. Setelah saya membaca buku itu sampai selesai. Dengan tidak
sengaja saya membaca sebuah kalimat yang benar-benar sangat menggetarkan hati
saya. Kalimatnya seperti ini “Menulislah maka kau akan dikenang oleh jaman
tanpa batas ruang dan waktu” Tulisan ini lah yang mendominasi saya ingin
menjadi seorang penulis.
Usaha yang sudah saya lakukan untuk mencapai
cita-cita saya menjadi seorang penulis yaitu selain saya berlatih terbiasa membaca,
saya juga mengiringinya dengan menulis setiap malam. Entah itu menulis apa
tidak pernah saya permasalahkan. Karena bagi saya yang penting menulis. Saya
biasanya menulis tentang kebebasan hidup, kebahagiaan hidup, cinta yang hakiki,
dan menghadapi permasalahan dengan tersenyum. Itu adalah beberapa judul atau
tema artikel yang saya tulis.
Menulis bagi saya adalah menyenangkan.
Terkadang saya pernah berfikir bahwa kertas putih adalah teman saya yang paling
setia. Kapanpun saya ingin bercerita tentang keluh kesah saya. Maka kertas
putihlah yang selalu bisa menemani saya. Bermula dari situlah saya terbiasa
menulis. Menulis adalah hal yang menyenangkan,
Menulis mampu membawa kita ke alam imajinasi laksana terbang
mengelilingi dunia. Kemanapun kita akan pergi maka tidak ada yang bisa
menghalanginya. Entah itu anginpun mampu terhipnotis oleh kita. Dengan menulis
kita juga mampu mengembangkan intelegensi kita agar tidak terkena virus
kevakuman.
Selain itu, dengan menulis kita juga
mengamalkan ilmu yang kita punya dan menceritakan pengalaman kita kepada orang
banyak. Dengan kita menulis, apa yang kita tulis akan di baca oleh orang.
Dengan seperti itu kita dapat menuliskan dan memberikan khasanah keilmuan.
Dengan tidak kita sadari jika kita menulis tentang pendidikan dengan
mengaitkannya dengan tauhid. Dan jika yang membaca tulisan kita yang dulunya
tidak baik menjadi baik, yang amoral menjadi sholeh, itu adalah sebuah emas
untuk kita. Apalagi jika yang membaca tulisan kita dari segi kuantitasnya
banyak. Maka otomatis bisa dikatakan kita telah membuat orang menjadi lebih
baik dan menyadarkanya. Itu adalah sebuah aset amal kebaikan untuk bekal kita
di akherat. Maka janganlah malas menulis.
Menulis adalah sebuah pekerjaan yang
menyenangkan. Janganlah berfikir menulis itu sulit sebelum mencoba. Inilah
perjalanan kehidupan saya dalam mencari sebuah cita-cita. Dan cita-cita saya
yang terakhir adalah menjadi anak kebanggan orang tua, membahagiakan kedua
orang tua, dan memberangkatkan orang tua ke Baitulloh. Amin....Amin ya Alloh.
Semoga Alloh meridoinya.............Aminnnn


